OKU TIMUR – MS – Musim kemarau mulai menunjukkan wajahnya di Kabupaten OKU Timur. Tanah mengering, sumber air warga mulai berkurang, sementara lahan perkebunan dan kawasan hutan yang luas semakin mudah terbakar ketika suhu udara meningkat dan hujan tak kunjung turun.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Kapolres OKU Timur AKBP Dr. Lalu Hedwin Hanggara, S.H., S.I.K., M.H., M.Si. Menurutnya, kemarau bukan hanya persoalan panas dan kekeringan, tetapi juga meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta kesulitan masyarakat mendapatkan air bersih.
OKU Timur memiliki wilayah yang cukup luas, terdiri dari 20 kecamatan dan 315 desa. Kondisi geografis dengan hamparan perkebunan, lahan pertanian dan kawasan hutan membuat kewaspadaan terhadap kebakaran harus ditingkatkan, terutama saat curah hujan rendah.
“Di OKU Timur banyak titik panas yang harus kita waspadai. Kita harus bekerja keras menanggulangi Karhutla. Jangan sampai satu titik api berkembang menjadi kebakaran yang sulit dikendalikan,” tegas Kapolres Lalu.
Menurutnya, setiap titik panas harus menjadi perhatian bersama. Jajaran kepolisian diminta tidak hanya bergerak ketika kebakaran sudah terjadi, tetapi aktif melakukan pemantauan, patroli dan memberikan edukasi kepada masyarakat.
“Jangan menunggu api membesar baru bertindak. Cegah dari awal, pantau wilayahnya dan tindak tegas apabila ada yang sengaja membakar lahan,” ujarnya.
Ketegasan tersebut dibuktikan Satreskrim Polres OKU Timur melalui pengungkapan dugaan pembakaran lahan di areal PT Musi Hutan Persada (MHP), Desa Banu Ayu, Kecamatan BP Peliung.
Kebakaran diketahui terjadi pada Sabtu, 22 Agustus 2026 sekitar pukul 18.55 WIB di areal CPT 24 Blok Sungai Tuha, PT MHP. Dalam kasus tersebut, polisi mengamankan tiga orang yang diduga terlibat.
Pengungkapan ini sekaligus menjadi peringatan bahwa persoalan Karhutla tidak boleh dianggap sepele di tengah kondisi kemarau.
“Saya tidak akan main-main. Apabila ditemukan pelaku yang melanggar hukum, akan kami tindak tegas. Saya juga meminta seluruh jajaran Polsek untuk turun ke lapangan dan memastikan wilayahnya benar-benar dipantau,” tegas Lalu.
Kapolres menyadari luasnya wilayah OKU Timur menjadi tantangan tersendiri bagi kepolisian. Karena itu, pencegahan Karhutla harus dilakukan bersama-sama dengan pemerintah, perusahaan dan masyarakat.
Namun, perhatian Kapolres tidak hanya tertuju pada ancaman api. Di tengah kemarau panjang, persoalan lain yang tak kalah penting adalah kebutuhan air bersih.
Sebagian masyarakat yang tidak memiliki sumber air memadai harus menghadapi kondisi sulit ketika sumur mulai mengering.
Kapolres meminta jajaran Polsek untuk mendata dan memantau desa-desa yang mulai mengalami kesulitan air bersih, terutama wilayah yang kondisi sumber airnya semakin terbatas seperti Kecamatan Belitang II, Belitang III dan Semendawai III.
“Kalau ada desa yang mengalami kesulitan air bersih, segera laporkan dan berikan bantuan. Jangan sampai masyarakat yang memang tidak mampu membuat sumur bor harus menunggu terlalu lama untuk mendapatkan air,” kata Lalu.
Menurutnya, air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang tidak boleh diabaikan hanya karena perhatian publik sedang tertuju pada persoalan Karhutla.
“Kemarau ini harus kita hadapi bersama. Kita cegah kebakaran, kita jaga lingkungan dan kita pastikan masyarakat yang kesulitan air mendapatkan bantuan.
Jangan sampai panasnya kemarau berubah menjadi penderitaan bagi masyarakat,” tegasnya.
Kapolres kembali mengingatkan seluruh jajaran untuk bekerja dengan pola cegah, pantau dan bertindak.
“Saya tidak mau ada lagi kejadian Karhutla di Bumi Sebiduk Sehaluan. Kita harus hadir sebelum masyarakat membutuhkan kita, bukan setelah bencana terjadi,” pungkasnya. (BD)















Discussion about this post