OKU TIMUR – MS – Ketika ribuan pelajar di Kabupaten OKU Timur berangkat ke sekolah melalui jalan beraspal yang mulus, kisah berbeda justru dialami Putri Anjani, siswi SMKN 1 BP Bangsa Raja. Demi menggapai cita-cita, ia harus mengawali hari dengan menyeberangi Sungai Komering menggunakan perahu, mempertaruhkan keselamatan karena hingga kini belum ada jembatan yang menghubungkan desanya dengan dunia luar.
Bagi Putri dan puluhan pelajar lainnya, perjalanan menuju sekolah bukan sekadar rutinitas. Setiap pagi mereka harus menghadapi derasnya arus Sungai Komering sebelum akhirnya bisa melanjutkan perjalanan ke sekolah. Saat musim hujan datang, rasa cemas selalu menghantui. Debit air yang meningkat dan arus yang semakin kuat membuat perjalanan menjadi sangat berbahaya.
“Anak-anak di kota bisa berangkat sekolah lewat jalan yang bagus. Kami harus naik perahu dulu. Kalau hujan turun, kami basah kuyup. Kalau air sungai besar, kami hanya bisa pasrah sambil berdoa agar selamat sampai ke seberang,” tutur Putri.
Ia mengatakan, tidak sedikit pelajar yang harus berdesakan di atas perahu bersama warga yang hendak bekerja, berkebun, maupun berdagang. Ruang yang terbatas membuat perjalanan semakin tidak nyaman dan penuh risiko.
Bahkan, saat Sungai Komering meluap, perahu yang mereka tumpangi kerap kesulitan melawan arus. Dalam kondisi tertentu, penumpang pernah tercebur ke sungai saat hendak menyeberang.
“Kami sering takut. Tapi kalau tidak berangkat, kami tidak bisa sekolah. Mau tidak mau kami harus tetap menyeberang setiap hari,” katanya.
Bagi Putri, pendidikan adalah jalan untuk mengubah masa depan. Namun jalan menuju sekolah justru menjadi ujian yang harus dihadapi setiap hari. Perjuangan itu telah berlangsung bertahun-tahun tanpa ada perubahan berarti.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten OKU Timur, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, hingga Pemerintah Pusat tidak lagi menutup mata terhadap kondisi yang dialami masyarakat Desa Karang Negara.
Menurutnya, pembangunan jembatan bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan penyelamat bagi masyarakat dan para pelajar yang setiap hari mempertaruhkan nyawa demi mendapatkan pendidikan.
Dengan logat khas bahasa daerah Putri menyampaikan harapan yang sederhana namun penuh makna.
“Kalau ado jembatan, kami idak saro nian lagi ke sekolah. Kami sudah lamo nian nunggu. Semoga bae pemerintah dibukakan mato hati, bangunkan jembatan di desa kami. Kami cuma nak sekolah dengan aman, samo macam anak-anak yang lain,” ucapnya. (B12)














Discussion about this post