OKU TIMUR – MS – Upaya menekan Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Balita (AKABA) menjadi perhatian serius jajaran kesehatan di Kabupaten OKU Timur.
Hal tersebut mengemuka dalam Workshop Pendampingan Tata Kelola Bidang Kesehatan Kabupaten OKU Timur Tahun 2026 yang digelar Dinas Kesehatan OKU Timur di Aula Parai Tani Martapura, Selasa (24/6/2026).
Kegiatan yang diikuti kepala puskesmas, koordinator program dan pengelola data dari lima puskesmas tersebut membedah sejumlah persoalan kesehatan yang masih menjadi tantangan daerah berdasarkan capaian tahun 2025.
Terdapat tiga indikator yang menjadi sorotan utama, yakni capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bayi Baru Lahir yang turun 0,6 persen menjadi 97,2 persen, peningkatan kasus baru HIV hingga tujuh kali lipat dalam kurun lima tahun terakhir, serta angka kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) yang melonjak hingga 24 kali lipat dengan incidence rate mencapai 63,66 per 100 ribu penduduk.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten OKU Timur, Yakub, SKM., MM., M.Kes menegaskan bahwa seluruh puskesmas harus bekerja menggunakan pendekatan berbasis data by name by address agar setiap sasaran pelayanan dapat terpantau secara maksimal.
“Data kabupaten yang baik tidak cukup. Puskesmas harus mengetahui secara detail siapa bayi berisiko yang belum mendapatkan pelayanan lengkap, siapa penderita penyakit kronis yang belum terlayani, sehingga intervensi dapat dilakukan tepat sasaran,” tegas Yakub.
Dalam workshop tersebut, peserta mendapatkan pendampingan penyusunan matriks prioritas masalah kesehatan, penyusunan rencana aksi lima tahunan, hingga mekanisme monitoring capaian SPM secara berkala.
Selain itu dilakukan pembahasan mengenai audit kematian bayi dan balita yang masih didominasi faktor asfiksia dan prematuritas.
Kepala Puskesmas Bunga Mayang, Yosi Fitriani, SKM menyatakan pihaknya siap menindaklanjuti hasil workshop dengan fokus pada tiga program prioritas yang dinilai memiliki dampak langsung terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
Prioritas pertama adalah percepatan capaian SPM Bayi Baru Lahir guna menekan risiko kematian akibat asfiksia dan komplikasi neonatal.
Prioritas kedua mengoptimalkan Posyandu Lansia untuk mendukung peningkatan Usia Harapan Hidup (UHH). Sedangkan prioritas ketiga adalah memperkuat program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) sebagai langkah deteksi dini berbagai permasalahan kesehatan pada usia sekolah.
“Kami tidak ingin capaian hanya berhenti pada angka administrasi. Target kami adalah memastikan seluruh sasaran pelayanan benar-benar mendapatkan layanan kesehatan yang dibutuhkan. Untuk SPM Bayi Baru Lahir, kami menargetkan capaian 99,5 persen pada tahun 2030,” ujar Yosi.
Ia juga mengimbau masyarakat agar aktif memanfaatkan layanan kesehatan yang tersedia, mulai dari pemeriksaan ibu hamil, pelayanan bayi baru lahir, Posyandu, hingga pemeriksaan kesehatan rutin bagi lansia.
“Menurutnya, keberhasilan menekan AKB dan AKABA membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, bukan hanya tenaga kesehatan,” tutupnya (b12)














Discussion about this post