OKU TIMUR — MS- Ada banyak cara merayakan ulang tahun. Ada yang meniup lilin, ada yang memotong tumpeng, ada pula yang sekadar mengunggah foto lama sambil menulis, “Terima kasih perjalanan.” Polisi, dalam momentum Hari Bhayangkara ke-80, memilih cara yang sedikit berbeda, membagikan bantuan sosial kepada wartawan.
Di OKU Timur, para insan pers yang sehari-hari akrab dengan konferensi pers, rilis, hingga telepon mendadak tengah malam, kali ini duduk di sisi yang berbeda. Mereka bukan sedang meliput bantuan sosial, melainkan menjadi penerimanya.
Barangkali memang begitulah hubungan polisi dan wartawan. Kadang saling membutuhkan, kadang saling mengkritik, sesekali saling menghubungi hanya karena satu kalimat: “Bang, ada informasi?”
Kapolres OKU Timur AKBP Adik Lustiyono Melalui Kasi Humas Polres OKU Timur IPTU Rozi SH, menyampaikan bahwa bantuan sosial tersebut merupakan bagian dari rangkaian Hari Bhayangkara ke-80 sekaligus bentuk apresiasi kepada media.
“Kami ingin berbagi dengan rekan-rekan media yang selama ini telah menjadi mitra strategis Polres OKU Timur,” kata Kapolres
Kalimat “mitra strategis” mungkin sudah cukup akrab di telinga wartawan. Frasa itu sering muncul dalam sambutan, pidato, hingga spanduk kegiatan. Namun di balik istilah yang terdengar resmi itu, ada kenyataan yang lebih sederhana, polisi dan wartawan memang tidak bisa benar-benar berjauhan.
Polisi membutuhkan media untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat. Wartawan membutuhkan polisi untuk mendapatkan data, konfirmasi, atau sekadar memastikan bahwa sebuah kabar benar adanya. Hubungan yang kadang seperti teman lama, kadang seperti tetangga yang saling meminjam garam.
Di tengah derasnya arus informasi dan cepatnya media sosial menghakimi, keberadaan pers dan kepolisian menjadi dua simpul yang sama-sama diuji. Satu dituntut cepat tanpa kehilangan akurasi, satu lagi dituntut responsif tanpa kehilangan kepercayaan publik.
Maka, bantuan sosial ini mungkin bukan semata soal isi paket yang dibagikan. Nilainya boleh jadi tidak seberapa dibandingkan kebutuhan sehari-hari. Namun ada pesan yang ingin disampaikan, bahwa di tengah hubungan yang sering diwarnai kritik, klarifikasi, dan pertanyaan yang tak selalu nyaman, masih ada ruang untuk duduk bersama.
Sebab pada akhirnya, polisi dan wartawan memiliki kesamaan yang jarang disadari, keduanya sama-sama sering pulang larut, sama-sama akrab dengan telepon mendadak, dan sama-sama tahu bahwa kabar buruk hampir selalu datang tanpa membuat janji.
“Dan di usia Bhayangkara yang ke-80, mungkin itu yang ingin diingatkan Polres OKU Timur, bahwa di balik berita kriminal, konferensi pers, dan rilis resmi, ada hubungan manusia yang perlu terus dirawat. Bahkan jika itu dimulai dari sebungkus bantuan sosial dan secangkir kopi hangat. (BD12)














Discussion about this post