OKU TIMUR – MS- Kelangkaan gas elpiji subsidi 3 kilogram kembali dikeluhkan masyarakat di Kecamatan Martapura, Kabupaten OKU Timur.
Selain sulit didapat,harga gas melon di tingkat pengecer toko – toko juga melonjak hingga mencapai Rp32 ribu per tabung.
Kondisi ini membuat para pedagang kaki lima dan pelaku usaha kecil semakin terhimpit karena biaya operasional terus meningkat.
Sejak beberapa hari terakhir, banyak pedagang mengaku harus berkeliling dari malam hingga pagi hanya untuk mencari tabung gas 3 kilogram agar tetap bisa berjualan. Namun, upaya tersebut sering kali tidak membuahkan hasil.
Kalaupun tersedia, mereka terpaksa membeli dengan harga jauh di atas harga eceran yang seharusnya karena kebutuhan usaha tidak bisa ditunda.
Seorang pedagang kecil mengungkapkan, di saat sebagian orang masih menikmati waktu istirahat atau berolahraga pagi, dirinya justru harus menghabiskan malam hingga pagi mencari elpiji demi mempertahankan usahanya.
“Gas sekarang susah sekali dicari. Ketemu pun harganya sudah Rp32 ribu. Mau tidak mau tetap dibeli karena dipakai untuk berdagang,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut sangat memberatkan. pedagang kecil tidak menentu, bahkan terkadang hanya sekitar Rp39 ribu dalam sehari dan tidak jarang pulang tanpa membawa keuntungan sama sekali.
Di sisi lain, kebutuhan pokok dan biaya usaha terus mengalami kenaikan sehingga keuntungan yang diperoleh semakin menipis.
Kelangkaan elpiji 3 kilogram ini dikhawatirkan akan berdampak pada keberlangsungan usaha mikro dan pedagang kaki lima di Martapura.
Mereka berharap pemerintah bersama pihak terkait segera mengambil langkah untuk menormalkan distribusi gas bersubsidi agar kembali mudah diperoleh dengan harga sesuai ketentuan.
Para pedagang berharap persoalan ini segera mendapat perhatian serius. Mereka hanya ingin bisa memperoleh gas elpiji dengan mudah dan harga yang wajar agar tetap dapat mencari nafkah untuk menghidupi keluarga.
Di tengah kondisi ekonomi yang semakin berat, mereka berharap ada solusi nyata sehingga masyarakat kecil tidak terus menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.
“Jangan sampai penderitan usaha kecil UKM semangkin terjepit, sementara toko atau warung tersenyum melihat pedagang kecil merintih kesulitan,” keluhnya (86)














Discussion about this post